
Kemenangan terbesar tidak selalu terjadi di medan perang. Kadang ia terjadi di dada manusia: saat amarah berhasil ditahan, saat ego berhasil ditundukkan, dan saat kasih tidak berubah menjadi tuntutan. Begitulah Wuku Galungan dalam Pawukon Jawa: musim batin yang mengajarkan kemenangan batin, welas asih, dan pengendalian emosi.
Wuku Galungan adalah wuku kesebelas dalam siklus Pawukon Jawa. Satu wuku berlangsung selama 7 hari, sedangkan satu putaran Pawukon terdiri dari 30 wuku atau 210 hari. Dalam pembacaan tradisional, Galungan dikaitkan dengan Bethara Kamajaya, Pohon Tangan, Burung Bidho, bokor berisi air, watak welas asih, dan aral tukaran atau pertengkaran.
Ringkasan Cepat Wuku Galungan
- Wuku Galungan adalah wuku kesebelas dalam siklus Pawukon Jawa.
- Wuku ini dinaungi Bethara Kamajaya, simbol cinta yang tulus, welas asih, kehalusan budi, dan pengabdian.
- Simbol utamanya adalah Pohon Tangan, Burung Bidho, dan bokor berisi air.
- Watak Galungan sering dibaca sebagai halus budi, pekerja keras, dermawan, suka menolong, dan mudah menyentuh hati orang lain.
- Aral utamanya adalah tukaran, yaitu pertengkaran yang lahir dari emosi, kecewa, atau rasa yang tidak dijaga.
Jawaban Cepat: Apa Arti Wuku Galungan?
Wuku Galungan artinya dapat dipahami sebagai wuku kemenangan batin dalam Pawukon Jawa. Ia membawa pesan tentang kasih yang tulus, pengabdian, welas asih, dan kemampuan menenangkan emosi sebelum berubah menjadi pertengkaran.
Aral tukaran tidak perlu dibaca sebagai ancaman yang menakutkan. Dalam pembacaan JavaSense, ia lebih tepat dipahami sebagai pangeling bahwa kasih yang tidak dijaga bisa berubah menjadi kecewa, lalu kecewa bisa berubah menjadi kata-kata yang melukai.
Tabel Ringkasan Wuku Galungan
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama Wuku | Wuku Galungan |
| Urutan | Wuku ke-11 dari 30 wuku |
| Siklus | 7 hari dalam putaran Pawukon 210 hari |
| Bethara | Bethara Kamajaya atau Bathara Kamajaya |
| Simbol utama | Pohon Tangan, Burung Bidho, dan bokor berisi air |
| Watak utama | Welas asih, pekerja keras, dermawan, halus budi, suka menolong, dan suka mengabdi |
| Aral | Tukaran atau pertengkaran akibat emosi, kecewa, atau rasa yang tidak dijaga |
| Hari baik | Baik untuk tirakat, silaturahmi, berguru, memperbaiki hubungan, dan menenangkan batin |
| Tantangan | Mudah terbawa emosi, terlalu perasa, terlalu banyak memberi, boros tenaga, dan rawan kecewa |
| Laku bijak | Mengendalikan emosi, memberi dengan batas, menjaga hasrat, dan menenangkan hati sebelum berbicara |
Apa Itu Wuku Galungan?
Wuku Galungan adalah wuku kesebelas dari 30 wuku dalam sistem Pawukon Jawa. Ia berada setelah Wuku Sungsang dan sebelum Wuku Kuningan.
Dalam tradisi Pawukon, Galungan sering dibaca sebagai wuku yang membawa pesan tentang cinta yang tulus, semangat pengabdian, kemurahan hati, dan kemenangan atas gejolak batin.
Jika Sungsang mengajarkan akal jernih saat rintangan datang, maka Galungan mengajarkan cara menaklukkan emosi setelah ujian itu dilalui. Kemenangan Galungan bukan menang atas orang lain, melainkan menang atas amarah, tuntutan, dan rasa kecewa yang tidak dijaga.
Di sini, Galungan lebih tepat dibaca sebagai pangilon rasa: membantu manusia melihat apakah kasihnya masih jernih, apakah pengabdiannya masih tulus, dan apakah emosinya masih dapat ditenangkan sebelum melukai hubungan.
Untuk memahami konteks besarnya, pembaca dapat membuka Pawukon Jawa sebagai peta utama 30 wuku dan siklus 210 hari.
Beda Wuku Galungan dan Hari Raya Galungan Bali
Bagian ini penting karena banyak pembaca bisa tertukar. Wuku Galungan adalah salah satu dari 30 wuku dalam siklus Pawukon Jawa. Sementara Hari Raya Galungan adalah hari suci Hindu Bali yang dirayakan dalam konteks keagamaan dan adat Bali.
Keduanya memiliki irisan rasa pada tema kemenangan kebaikan atas keburukan. Namun artikel ini fokus pada Wuku Galungan dalam Pawukon Jawa, bukan pembahasan khusus tentang perayaan Hari Raya Galungan Bali.
Dalam pembacaan Wuku Galungan, kemenangan itu dibawa ke dalam diri: saat manusia memilih sabar daripada marah, tulus daripada pamrih, dan damai daripada pertengkaran.
Urutan Wuku Galungan dalam Pawukon Jawa
Dalam urutan Pawukon, Wuku Galungan berada pada posisi kesebelas. Ia hadir setelah Sungsang, wuku yang membawa rasa rintangan, akal jernih, dan kehati-hatian terhadap ketajaman. Setelah itu, Galungan menghadirkan pelajaran tentang kemenangan batin.
Setelah Galungan, siklus bergerak menuju Kuningan, wuku yang membawa rasa kemuliaan, penerang, dan penguatan nilai. Dari sini, alur Pawukon terasa seperti perjalanan batin: dari ujian akal menuju kemenangan rasa, lalu menuju cahaya yang lebih tertata.
Untuk melihat tanggal, pasaran, dan susunan waktu Jawa secara lebih mudah, pembaca dapat membuka kalender Jawa lengkap dengan wuku.
Filosofi Wuku Galungan: Kemenangan Batin dan Welas Asih
Filosofi Wuku Galungan berpusat pada kemenangan batin. Ini bukan kemenangan yang merendahkan lawan, melainkan kemenangan yang membuat manusia lebih damai di dalam dirinya sendiri.
Seseorang mungkin terlihat kuat di luar, tetapi kemenangan sejati baru terjadi ketika ia mampu menaklukkan amarah, hasrat berlebihan, dan luka hati yang ingin membalas.
Galungan juga dekat dengan rasa kasih. Namun kasih di sini bukan sekadar perasaan romantis. Ia adalah kasih yang bekerja: membantu, mengasuh, mendengarkan, bekerja keras, dan membuat hidup orang lain sedikit lebih ringan.
Namun hati yang mudah mengasihi juga mudah terluka. Orang Galungan cenderung perasa. Ia bisa cepat terharu, mudah simpati, dan rela berkorban. Jika tidak dijaga, kelebihan ini bisa berubah menjadi kekecewaan, kelelahan, atau pertengkaran yang meledak dari emosi yang lama ditahan.
Pelajaran utama Wuku Galungan sederhana: cintailah dengan jernih, bekerjalah dengan tulus, dan tenangkan hati sebelum berbicara.
Bethara Kamajaya dalam Wuku Galungan
Dalam tradisi Pawukon, Wuku Galungan dinaungi Bethara Kamajaya atau Bathara Kamajaya. Sosok ini sering dipahami sebagai lambang cinta, keindahan, kelembutan, dan ketulusan rasa.
Dalam pembacaan budaya, Bethara Kamajaya tidak hanya dilihat sebagai simbol asmara. Ia lebih luas dari itu. Ia adalah lambang kasih yang menghidupkan, menenteramkan, dan membuat manusia tetap punya ruang untuk menyayangi sesamanya.
Karena itu, Kamajaya dalam Wuku Galungan lebih dekat pada cinta yang mengabdi daripada cinta yang menuntut. Orang yang membawa rasa Galungan sering mudah dicintai karena kelembutan budinya. Ia bisa menenangkan suasana, menghangatkan hubungan, dan membuat orang lain merasa diterima.
Namun kasih yang besar tetap perlu batas. Jika tidak, orang Galungan bisa memberi terlalu banyak, berharap terlalu dalam, lalu terluka ketika dunia tidak membalas sehalus hatinya. Di sinilah Bethara Kamajaya mengajarkan bahwa kasih yang matang tetap membutuhkan kebijaksanaan.
Untuk membaca figur Bethara lain dalam siklus wuku, pembaca dapat membuka artikel Dewa Pawukon Jawa sebagai pengantar simbol Bethara dalam Pawukon.
Simbol Wuku Galungan: Pohon Tangan, Burung Bidho, dan Bokor Air
Simbol dalam Pawukon adalah bahasa budaya. Melalui pohon, burung, dan benda sederhana, manusia diajak melihat sifat, tantangan, dan arah laku yang perlu dirawat.
Pohon Tangan: Etos Kerja Sang Pengabdi
Pohon Tangan melambangkan tangan yang tidak suka berdiam diri. Ia adalah simbol kerja, pengabdian, pertolongan, dan keinginan untuk berguna.
Orang Galungan sering merasa hidupnya bermakna saat bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Ia cocok menjadi pekerja yang tekun, orang yang dapat diandalkan, dan sosok yang hadir saat keadaan membutuhkan tindakan nyata.
Namun tangan yang terlalu sering memberi juga bisa kelelahan. Karena itu, orang Galungan perlu belajar bahwa menjadi penolong tidak berarti harus menanggung semuanya sendirian.
Burung Bidho: Ketangguhan dan Hasrat yang Perlu Dijaga
Burung Bidho menggambarkan daya juang dan ketangguhan. Orang Galungan tidak selalu selembut penampilannya. Di balik hati yang peka, ia juga punya tenaga batin yang kuat untuk bertahan, membela yang diyakini benar, dan berjuang demi orang yang ia cintai.
Namun simbol ini juga membawa ujian. Ketangguhan yang tidak dijaga bisa berubah menjadi hasrat yang terlalu keras. Seseorang bisa terlalu ingin menang, terlalu ingin dipahami, atau terlalu larut membela perasaan sendiri hingga lupa mendengar orang lain.
Karena itu, Bidho mengajarkan agar tenaga hati selalu duduk bersama kesabaran.
Bokor Berisi Air: Hati yang Mudah Memberi
Bokor berisi air menggambarkan hati yang terbuka, jernih, dan siap berbagi. Orang Galungan sering mudah membantu, mudah iba, dan tidak pelit pada perhatian maupun tenaga.
Air di dalam bokor itu juga berbicara tentang kemampuan menenangkan. Seperti air yang meredakan dahaga, orang Galungan sering menjadi tempat orang lain bersandar saat lelah atau sedih.
Tetapi bokor yang terus dikuras tanpa diisi ulang akan kosong. Begitu pula hidup. Kedermawanan harus dijaga dengan batas. Memberi itu luhur, tetapi menghabiskan diri sendiri bukanlah kebijaksanaan.

Aral Tukaran: Pertengkaran Akibat Emosi yang Tidak Dijaga
Aral utama Wuku Galungan adalah tukaran atau pertengkaran. Ini sangat masuk akal jika melihat wataknya. Orang yang sangat peduli dan sangat perasa sering kali juga mudah kecewa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan hati.
Pertengkaran Galungan biasanya bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari emosi yang terluka. Ia bisa tersinggung karena merasa tidak dihargai. Ia bisa marah karena merasa ketulusan atau pengorbanannya diabaikan. Ia bisa meledak karena terlalu lama menahan perasaan.
Karena itu, kemenangan Galungan bukan kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas emosi yang meletup. Laku terbaik bagi Galungan adalah menenangkan hati sebelum berbicara, menahan diri sebelum membalas, dan memberi jeda agar rasa tidak langsung berubah menjadi pertengkaran.
Galungan mengajarkan satu hal penting: hati yang penuh kasih tidak boleh dibiarkan berubah menjadi lidah yang melukai.
Pangeling Ky Tutur: Ngger, tidak semua rasa kecewa harus langsung menjadi kata tajam. Kadang kemenangan batin dimulai dari satu tarikan napas sebelum berbicara.
Watak Orang Lahir di Wuku Galungan
Dalam pembacaan tradisional, orang yang lahir dalam Wuku Galungan sering dikaitkan dengan watak welas asih, pekerja keras, halus budi, dermawan, dan mudah menaruh perhatian pada orang lain.
Mereka biasanya tidak tega melihat kesusahan dan cenderung punya kebutuhan batin untuk berguna. Orang Galungan juga sering memiliki kehangatan sosial yang alami. Ia tidak selalu menonjol, tetapi mudah membuat orang merasa dekat.
Ia cocok dalam lingkungan yang membutuhkan kesabaran, pengasuhan, pelayanan, empati, pendidikan, kegiatan sosial, seni batin, dan kemampuan menjaga hubungan.
Kekuatan Galungan ada pada ketulusan dan pengabdiannya. Tantangannya ada pada emosi yang lembut tetapi mudah terguncang. Jika matang, ia bisa menjadi pribadi yang sangat meneduhkan. Jika belum matang, ia bisa mudah tersinggung, mudah kecewa, dan terlalu larut pada perasaan.
Kekuatan Utama Wuku Galungan
Wuku Galungan membawa beberapa kekuatan yang dapat dirawat sebagai arah laku. Kekuatan ini sebaiknya dibaca sebagai bahan refleksi budaya, bukan kepastian yang mengunci seseorang.
Welas Asih dan Mudah Menolong
Orang Galungan punya kepekaan besar terhadap penderitaan orang lain. Ia mudah tergerak untuk membantu, mendampingi, atau setidaknya membuat suasana terasa lebih ringan.
Pekerja Keras dan Setia Mengabdi
Simbol Pohon Tangan memberi rasa kerja nyata. Galungan tidak hanya bicara tentang kebaikan; ia ingin melakukan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya.
Halus Budi dan Meneduhkan
Bethara Kamajaya memberi warna kelembutan. Orang Galungan sering mudah diterima karena tutur dan sikapnya tidak kasar. Kehadirannya bisa membuat orang lain merasa aman.
Dermawan dan Tidak Pelit Perhatian
Bokor berisi air menggambarkan hati yang mudah memberi. Orang Galungan sering dermawan dalam bentuk tenaga, waktu, perhatian, atau bantuan nyata.
Cocok Menjadi Pendamping dan Penjaga Harmoni
Jika matang, Galungan dapat menjadi sosok yang menjaga hubungan tetap hangat. Ia bisa mendampingi tanpa menguasai, menolong tanpa membuat orang lain merasa kecil, dan mengasihi tanpa terlalu menuntut balasan.
Tantangan dan Sisi Bayangan Wuku Galungan
Tantangan terbesar Galungan adalah emosi. Hati yang halus dapat menjadi berkah besar, tetapi juga membuatnya rawan lelah, kecewa, dan terlibat pertengkaran.
Ia bisa merasa sudah memberi banyak, lalu terluka ketika balasan orang lain tidak sesuai harapan. Tantangan lain adalah boros dalam memberi: terlalu banyak tenaga, waktu, uang, atau perasaan yang dikeluarkan tanpa menimbang kemampuan diri sendiri.
Galungan juga perlu menjaga hasrat untuk selalu dibutuhkan. Kadang seseorang merasa bernilai ketika terus menolong. Padahal manusia tetap bernilai meski sedang tidak menjadi penyelamat bagi siapa pun.
Karena itu, Galungan perlu belajar satu hal: welas asih yang sehat selalu punya batas. Memberi tidak harus membuat diri sendiri kosong.
Hari Baik, Tirakat, Hubungan, dan Pantangan Wuku Galungan
Dalam pembacaan tradisional, Wuku Galungan baik untuk hal-hal yang berhubungan dengan batin, hubungan sosial, dan pencarian tuntunan.

Baik untuk Tirakat, Berguru, dan Silaturahmi
Wuku Galungan baik untuk tirakat, memperbaiki hati, meminta nasihat, berguru kawruh, dan mengunjungi kerabat. Ini sesuai dengan sifatnya yang mengarah pada ketenangan, pengabdian, dan kemenangan batin.
Waktu ini juga baik untuk memperbaiki hubungan, meminta maaf, atau menenangkan konflik lama yang belum selesai. Sebab inti Galungan adalah kemenangan atas emosi, bukan mempertahankan gengsi.
Baik untuk Menenangkan Konflik dan Menata Hati
Galungan juga baik untuk membuka percakapan yang selama ini tertunda. Namun percakapan itu sebaiknya dilakukan dengan hati yang tenang. Jangan datang hanya untuk menang debat. Datanglah untuk memahami dan memperbaiki.
Bukan Wuku Utama untuk Pernikahan Besar
Dalam pembacaan lama, Wuku Galungan tidak selalu dijadikan pilihan utama untuk pernikahan besar atau pendirian rumah. Secara reflektif, ini dapat dipahami sebagai nasihat bahwa nuansa Galungan lebih kuat untuk urusan batin dan sosial-spiritual, bukan fondasi fisik dan keputusan material yang berat.
Untuk urusan hubungan, Galungan lebih cocok untuk memperbaiki komunikasi, memperdalam niat, dan menata hati. Jika ingin membaca kecocokan pasangan melalui tradisi weton, pembaca bisa memakai fitur membaca harmoni dua weton sebagai bahan renungan, bukan vonis.
Pantangan: Jangan Membiarkan Kasih Menjadi Tuntutan
Pantangan batin Galungan adalah memberi sambil diam-diam menuntut balasan. Kasih yang terlalu banyak disimpan tanpa kejujuran bisa berubah menjadi kecewa. Kecewa yang tidak dijaga bisa berubah menjadi pertengkaran.
Dalam pembacaan budaya, pantangan bukan untuk menakut-nakuti. Ia adalah nasihat agar kasih, tenaga, dan emosi tetap berjalan bersama kebijaksanaan.
Contoh Membaca Wuku Galungan dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan seseorang dikenal lembut, suka membantu, dan jarang menolak ketika dimintai tolong. Ia bekerja keras untuk keluarga, menjaga perasaan banyak orang, dan sering menahan kecewa agar suasana tetap damai.
Namun pelan-pelan, ia merasa lelah. Ia mulai mudah tersinggung karena merasa tidak dihargai. Ia tetap memberi, tetapi dalam hati mulai menuntut balasan yang tidak pernah diucapkan.
Jika membaca Wuku Galungan, pembacaan yang sehat bukanlah, “Aku pasti sering bertengkar.” Pembacaan yang lebih jernih adalah, “Di mana kasihku perlu diberi batas, dan emosi mana yang perlu kutenangkan sebelum berubah menjadi kata yang melukai?”
Dari situ, Galungan menjadi pangilon rasa. Ia membantu seseorang tetap mengasihi tanpa kehilangan diri, tetap mengabdi tanpa merasa paling berjasa, dan tetap lembut tanpa memendam luka terlalu lama.
Hubungan Wuku Galungan dengan Weton, Pasaran, dan Kalender Jawa
Weton adalah gabungan hari tujuh dan pasaran lima, sedangkan wuku adalah lapisan waktu dalam Pawukon. Keduanya dapat dibaca bersama, tetapi tidak boleh dicampur seolah-olah sama.
Weton memberi tanah dasar kelahiran. Wuku memberi musim batin. Pasaran memberi warna harian. Kalender Jawa membantu melihat semuanya dalam satu peta waktu yang lebih tertata.
Untuk mengetahui weton dan wuku kelahiran, pembaca bisa memakai fitur temukan weton dan wuku dari tanggal lahir. Jika ingin melihat tanggal Jawa, pasaran, dan wuku yang sedang berjalan, gunakan lihat wuku dalam Kalender Jawa.
Pembaca yang ingin melihat wuku yang sedang berjalan juga dapat membuka halaman cek wuku hari ini sebagai pintu praktis.
Wuku Sebelum dan Sesudah Galungan
Wuku sebelum Galungan adalah Wuku Sungsang, wuku kesepuluh yang membawa rasa rintangan, akal jernih, dan kehati-hatian terhadap ketajaman. Setelah Galungan, siklus bergerak ke Wuku Kuningan, wuku kedua belas yang membawa rasa kemuliaan, penerang, dan penguatan nilai.
Dari Sungsang ke Galungan, manusia bergerak dari ujian akal menuju kemenangan batin. Dari Galungan ke Kuningan, kemenangan itu perlu diterangi oleh nilai yang lebih tertata.
Untuk memahami susunan lebih utuh, pembaca dapat membuka daftar 30 wuku dalam Pawukon dan mengikuti alurnya satu per satu.
Rujukan Budaya tentang Pawukon dan Wuku Galungan
Dalam rujukan tradisional seperti Betaljemur Adammakna tentang Wuku Galungan, wuku ini dikaitkan dengan Bathara Kamajaya, kayu Tangan, Burung Bidho, bokor berisi air, sifat suka memberi, serta aral pertengkaran.
Untuk konteks budaya 30 wuku secara umum, pembaca juga dapat melihat ulasan dari Museum Ullen Sentalu tentang 30 wuku.
Penutup: Kemenangan Sejati Ada di Dalam Diri
Pada akhirnya, Wuku Galungan mengajarkan bahwa kemenangan sejati tidak selalu bersuara keras. Kadang kemenangan paling agung justru terjadi ketika seseorang berhasil menahan amarah, menenangkan kecewa, dan menjaga kasih tetap jernih.
Jika lahir dalam Wuku Galungan, rawatlah kasihmu agar tidak berubah menjadi tuntutan. Rawatlah tanganmu agar tetap menjadi tangan yang berguna. Rawatlah emosimu agar tidak berubah menjadi api yang melukai.
Jika sedang berada dalam minggu Galungan, gunakan waktunya untuk tirakat, memperbaiki hubungan, menenangkan konflik, mengunjungi kerabat, mencari nasihat, dan menata kembali keadaan batinmu. Bicaralah dengan lembut. Dengarkan lebih banyak. Dan bila marah datang, beri jeda sebelum kata-kata keluar.
Sebab hati yang halus adalah anugerah. Namun ia baru menjadi berkah ketika ditemani batas, kebijaksanaan, dan kemampuan menang atas gejolak diri sendiri.
Untuk membaca weton, wuku, kalender Jawa, dan khazanah budaya Jawa secara lebih tertata, pembaca bisa mengunduh aplikasi JavaSense di Google Play sebagai teman belajar budaya Jawa modern.
FAQ Seputar Wuku Galungan
Apa arti Wuku Galungan?
Wuku Galungan artinya adalah wuku kemenangan batin dalam Pawukon Jawa. Ia sering dikaitkan dengan cinta yang tulus, welas asih, pengabdian, dan kemampuan menenangkan emosi sebelum berubah menjadi pertengkaran.
Wuku Galungan urutan ke berapa?
Wuku Galungan adalah wuku urutan kesebelas dalam siklus Pawukon Jawa. Ia berada setelah Wuku Sungsang dan sebelum Wuku Kuningan.
Siapa Bethara Wuku Galungan?
Bethara Wuku Galungan adalah Bethara Kamajaya atau Bathara Kamajaya. Dalam pembacaan simbolik, Kamajaya berkaitan dengan cinta, kelembutan budi, kasih sayang, pengabdian, dan keindahan rasa.
Apa simbol Wuku Galungan?
Simbol Wuku Galungan antara lain Pohon Tangan, Burung Bidho, dan bokor berisi air. Simbol ini menggambarkan kerja nyata, ketangguhan, welas asih, dan hati yang mudah memberi.
Apa watak orang lahir di Wuku Galungan?
Orang yang lahir di Wuku Galungan sering dikaitkan dengan watak welas asih, pekerja keras, halus budi, dermawan, dan suka menolong. Tantangannya adalah menjaga emosi, memberi dengan batas, dan tidak mudah kecewa.
Apa aral utama Wuku Galungan?
Aral utama Wuku Galungan adalah tukaran atau pertengkaran. Secara reflektif, ini mengingatkan agar seseorang menjaga emosi, tidak mudah tersinggung, dan tidak membiarkan rasa kecewa berubah menjadi kata-kata yang melukai.
Apakah Wuku Galungan sama dengan Hari Raya Galungan?
Tidak. Wuku Galungan adalah wuku ke-11 dalam Pawukon Jawa, sedangkan Hari Raya Galungan adalah hari suci Hindu Bali. Keduanya memiliki irisan tema kemenangan kebaikan, tetapi konteksnya berbeda.
Bagaimana cara mengetahui wuku kelahiran?
Cara mengetahui wuku kelahiran adalah dengan mencocokkan tanggal lahir ke dalam sistem kalender Jawa dan Pawukon. Pembaca dapat memakai fitur Cek Weton JavaSense untuk melihat weton, pasaran, dan wuku dari tanggal lahir.