Filosofi Wayang: Tontonan, Tuntunan, dan Cermin Laku Jawa
Filosofi wayang membaca pertunjukan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai cermin laku dan budi pekerti. “Angger, wayang bukan hanya bayangan di…
BACA →
Filosofi wayang membaca pertunjukan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai cermin laku dan budi pekerti. “Angger, wayang bukan hanya bayangan di…
BACA →
… Bayangkanlah engkau berdiri di pelataran candi yang sepi, di pagi hari yang belum sepenuhnya terang. Di sana, di antara ukiran batu…
BACA →
Makna jimat sebenarnya dapat dibaca sebagai pepiling batin, bukan sekadar benda yang dipuja. Angger, anakku… Ada benda yang kelihatannya diam, tetapi ketika…
BACA →
, malam ini rembulan membias tenang di atas pendapa, menebarkan cahayanya yang lembut. Udara purba berhembus perlahan, membawa serta aroma melati yang
BACA →
… Senja merangkak pelan di beranda ini, memulas awan dengan warna jingga yang menenangkan. Secangkir teh hangat mengepul, membawa aroma melati yang…
BACA →
… di antara riuhnya kicau burung dan semilir angin pagi yang menyapa pepohonan sawo di halaman pendopo ini, Paman sering merenung. Udara…
BACA →
Gunung Tidar dikenal dalam legenda Jawa sebagai Paku Tanah Jawa: bukit kecil di tengah Magelang yang menyimpan pesan besar tentang keseimbangan dan…
BACA →
Makna klenik sebenarnya dapat dibaca ulang sebagai cara berpikir Jawa yang halus, rinci, sabar pada kerumitan, dan tidak gegabah menghakimi sesuatu yang…
BACA →
Gunungan wayang menjadi simbol gerbang lakon, tata kosmos, dan jeda hening sebelum cerita bergerak. Angger, anakku… Sebelum tokoh wayang bertarung, sebelum gamelan…
BACA →